This article has been translated from English to Indonesian.

Mentalitas kawanan atau mentalitas sarang menggambarkan bagaimana manusia terlalu memperhatikan apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain, dan mereka membiarkan perilaku kolektif tersebut memengaruhi pikiran dan tindakan mereka sendiri.

Ini pada dasarnya seperti melompat dari tebing hanya karena orang lain melakukannya.

Pikiran rasional hilang. Emosi dan insting mengambil alih.

Seiring dengan bertambahnya ukuran dan keramaian kawanan, beberapa trader dan investor semakin cenderung mengikuti arus, hanya karena "semua orang melakukannya, jadi saya juga harus melakukannya."

Di pasar keuangan, mentalitas kawanan adalah hal yang umum dan nyata. Gelembung dot-com adalah contoh utama di mana investor mengabaikan fakta yang disajikan dalam laporan keuangan perusahaan, namun tetap berinvestasi dalam sahamnya.

Psikolog percaya bahwa kita secara alami cenderung mengikuti kerumunan, karena manusia bersifat emosional, dan secara emosional menyakitkan untuk bertentangan dengan kerumunan yang percaya atau melakukan A, tetapi kita ingin percaya atau melakukan B.

“Bagaimana mungkin semua orang itu salah?” kita bertanya pada diri sendiri.

Mentalitas kerumunan sangat terkait dengan FOMO, di mana investor takut ketinggalan kesempatan menguntungkan untuk membeli atau menjual cryptocurrency karena semua orang ikut terjun ke pasar.

Karena mentalitas kerumunan telah menyebabkan banyak trader dan investor kehilangan uang karena terlalu banyak pembeli menaikkan harga melebihi nilai intrinsik aset, yang pada akhirnya menyebabkan harga turun saat trader lain menjual, beberapa trader sebenarnya mengambil pendekatan kontrarian terhadap berbagai strategi trading dengan sengaja bertindak melawan kerumunan.